Lanjutan ke-8, Derajat Berat / Kritis, Protokol Tatalaksana COVID-19

  • 12/04/2021
  • Comment: 0
  • News

Farmakologis

  • Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drip Intravena (IV) selama perawatan
  • Vitamin B1 1 ampul/24 jam/intravena
  • Vitamin D
    • Suplemen: 400 IU-1000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk, sirup)
    • Obat: 1000-5000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU)
  • Azitromisin 500 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) atau sebagai alternatif Levofloksasin dapat diberikan apabila curiga ada infeksi bakteri: dosis 750 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari).
  • Bila terdapat kondisi sepsis yang diduga kuat oleh karena ko- infeksi bakteri, pemilihan antibiotik disesuaikan dengan kondisi klinis, fokus infeksi dan faktor risiko yang ada pada pasien. Pemeriksaan kultur darah harus dikerjakan dan pemeriksaan kultur sputum (dengan kehati-hatian khusus) patut dipertimbangkan.
  • Antivirus :
    • Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (harike 2-5) Atau
    • Remdesivir 200 mg IV drip (hari ke-1) dilanjutkan 1×100 mgIV drip (hari ke 2-5 atau hari ke 2-10)
  • Antikoagulan LMWH/UFH berdasarkan evaluasi DPJP
  • Deksametason dengan dosis 6 mg/24 jam selama 10 hari atau kortikosteroid lain yang setara seperti hidrokortison pada kasus berat yang mendapat terapi oksigen atau kasus berat dengan ventilator.
  • Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada
  • Obat suportif lainnya dapat diberikan sesuai indikasi
  • Apabila terjadi syok, lakukan tatalaksana syok sesuai pedoman tatalaksana syok yang sudah ada, yakni
  1. Inisiasi resusitasi cairan dan pemberian vasopressor untuk mengatasi hipotensi dalam 1 jam pertama.
  2. Resusitasi cairan dengan bolus cepat kristaloid 250 – 500 mL (15 – 30 menit) sambil menilai respon klinis.
  3. Respon klinis dan perbaikan target perfusi (MAP >65 mmHg, produksi urine >0,5 ml/kg/jam, perbaikan capillary refill time, laju nadi, kesadaran dan kadar laktat).
  4. Penilaian tanda overload cairan setiap melakukan bolus cairan
  5. Hindari penggunaan kristaloid hipotonik, gelatin dan starches untuk resusitasi inisiasi
  6. Pertimbangkan untuk menggunakan indeks dinamis terkait volume responsiveness dalam memandu resusitasi cairan (passive leg risingfluid challenges dengan pengukuran stroke volume secara serial atau variasi tekanan sistolik, pulse pressure, ukuran vena cava inferior, atau stroke volume dalam hubungannya dengan perubahan tekanan intratorakal pada penggunaan ventilasi mekanik)
  7. Penggunaan vasopressor bersamaan atau setelah resusitasi cairan, untuk mencapai target MAP >65 mmHg dan perbaikan perfusi
  8. Norepinefrin sebagai first-line vasopressor
  9. Pada hipotensi refrakter tambahkan vasopressin (0,01- 0,03 iu/menit) atau epinephrine.
  10. Penambahan vasopressin (0,01-0,03 iu/menit) dapat mengurangi dosis norepinehrine
  11. Pada pasien COVID-19 dengan disfungsi jantung dan hipotensi persisten, tambahkan dobutamin.
  12. Jika memungkinkan gunakan monitor parameter dinamis hemodinamik. Baik invasif, seperti PiCCO2, EV1000, Mostcare, maupun non-invasif, seperti ekokardiografi, iCON, dan NICO2.
  • Obat suportif lainnya dapat diberikan sesuai indikasi

*Dikutip dari Buku Saku Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi kedua, halaman 34-37.

Leave a Reply

X